U follow me, I follow U.

Suka tak?

Friday, March 9, 2012

Isu Mazhab di Syria : Bonus Buat Israel

Artikel tulisan Dina Y. Sulaiman.

Menganalisis Syria, buat sebagian orang, termasuk saya, terasa agak sensitif. Aroma mazhab menguar dengan kental, sehingga seolah-olah publik dipecah dua. Pendukung Syria diidentikkan dengan orang-orang Syiah, seolah-olah Bashar Assad adalah penganut Syiah yang taat dan harus dibela habis-habisan. Padahal, faktanya Assad adalah pemimpin yang sekuler. Dia penganut Syiah Alawi, mazhab yang berbeda jauh dengan Syiah ala Iran yang sangat patuh pada garis komando ulama. Jadi, Assad bukanlah pendukung Wilayatul Faqih (pemerintahan ulama di Iran). Fakta bahwa Syria berhubungan baik dengan Iran lebih ke faktor geopolitik, bukan mazhab. Sebaliknya, orang-orang Sunni lebih cenderung percaya pada pemberitaan betapa kejamnya Bashar Assad yang tega membunuhi rakyat sendiri, terutama membunuhi para aktivis Islam non-Syiah. Bahkan ada yang menilai Assad itu lebih kejam dari Israel.



Pertanyaan saya, mengapa kaum muslimin tidak keluar dari pengotak-kotakan seperti ini? Konflik di Syria sangat jelas, bukan konflik antarmazhab. Lalu mengapa publik harus berpihak pada salah satu pihak dengan landasan mazhab? Situasi perpecahan seperti inilah yang justru menjadi bonus buat Barat. Mereka ingin menggulingkan Assad demi kepentingan mereka. Namun, kekuatan propaganda mereka telah memberi keuntungan lain: semakin terpecahnya umat Islam. Alih-alih berdiri di barisan yang sama untuk menentang satu musuh bersama: aliansi AS-Israel-NATO, umat Islam malah saling tuduh.



Saya ingin mengutip satu dari sekian banyak analisis yang ditulis pengamat Barat anti-perang. Mereka ini dengan jernih berusaha mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi di Syria, lepas dari urusan agama. Prof. Michel Chossudovsky adalah salah seorang pengamat politik Timur Tengah yang aktif menulis tentang Syria. Motivasinya sederhana saja: mencegah perang, karena perang hanya akan merugikan warga dunia pada umumnya. Perang hanya menguntungkan segelintir elit politik dan para industrialis perang (penyedia senjata, juragan minyak, dll).



Dalam tulisannya ‘Syria: NATO’s Next Humanitarian War’, Chossudovsky mengkompilasi data-data yang dia dapatkan dari sumber-sumber Barat sendiri, yang membuktikan bahwa kerusuhan di Syria (yang disebut media Barat sebagai ‘gerakan protes damai’) adalah sebuah rekyasa yang dilaksanakan sejak lama oleh aliansi AS-NATO- Israel (apa tujuannya, bisa dibaca di tulisan saya sebelumnya “Syria: Prahara di Negeri Pengungsi”). Menurut Chossudovsky, aksi ‘protes’ di Syria tidak lahir dari perpecahan politik internal sebagaimana dideskripsikan oleh media mainstream media. Memang benar, Syria bukan negara surga di mana semua rakyatnya berada di satu kubu. Namun, kekuatan oposisi tidaklah mengakar luas di tengah rakyat sampai-sampai mampu memicu kerusuhan besar-besaran. Sejak awalnya, ini adalah hasil dari sebuah operasi rahasia intelijen AS dan NATO yang bertujuan untuk memicu kekacauan sosial dan mendestabilisasi Syria.



Chossudovsy menulis, sejak pertengahan Maret 2011, kelompok-kelompok Islamis bersenjata yang secara rahasia didukung oleh intel Barat dan Israel, mulai melakukan serangan-serangan terorisme, menembaki gedung-gedung pemerintahan, polisi, dan masyarakat sipil. Hal inilah yang kemudian juga diakui oleh Clinton dalam wawancaranya dengan BBC: Al Qaeda berada di balik serangan-serangan itu; dan ini menunjukkan absurditas kondisi di Syria, bahkan AS bersedia bekerjasama dengan Al Qaeda demi melengserkan Assad. Chossudovsky menyandarkan bukti dari pernyataannya ini pada laporan dari the Arab League Observer Mission. Selain itu, pemberitaan-pemberitaan dari media massa Barat sendiri menyinggung tentang kehadiran M16 (Dinas Rahasia Inggris) dan CIA di Syria. Misalnya Daily Star melaporkan bahwa AS, Inggris, dan Turki mensuplai para pemberontak dengan senjata, dan menyatakan bahwa ‘Syria mendukung Hizbullah dan hal ini mengancam Timur Tengah.” Harian ini juga melaporkan bahwa Menteri Pertahanan Inggris mengkonfirmasi bahwa Inggris tengah menyusun rencana rahasia untuk memberlakukan no-fly-zone di Syria, namun perlu dukungan dari PBB. Tapi bila dukungan PBB tidak juga didapat, akan ada kondisi yang memaksa NATO bertindak. Daily Star juga mengutip narasumbernya yang memprediksi bahwa bahwa pertempuran di Syria akan lebih besar dan lebih berdarah daripada Libya.



Kini mari kita lihat sekilas apa yang ditulis jurnalis independen, Thierry Meyssan, yang sebelumnya aktif meliput langsung ke berbagai kawasan konflik dan memberikan laporan yang berbeda dengan media mainstream (misalnya, kisruh pemilu Iran tahun 2009, Meyssan melaporkan langsung situasinya dari Tehran dan menunjukkan berbagai kebohongan media mainstream, begitu pula konflik di Libya). Dalam laporan panjang di websitenya(www.voltairenet.com) , Meyssan menganalisis berbagai kebohongan yang dilakukan media mainstream.



Meyssan antara lain melaporkan bahwa dengan dukungan Rusia, tentara nasional Syria akhirnya menyerbu Homs pada 9 Februari, setelah semua upaya mediasi dengan pasukan pemberontak (yang menamakan diri Free Syrian Army/FSA) gagal dilakukan. FSA akhirnya kalah dan mundur ke wilayah Emirat seluas 40 hektar yang langsung dikepung oleh tentara nasional, sampai akhirnya wilayah itu pun berhasil direbut tentara nasional pada tanggal 1 Maret. Namun ada yang tidak diberitakan media mainstream tentang kejadian di Emirat: pasukan FSA membantai orang-orang Kristen di dua desa, saat para mereka berupaya melarikan diri ke Lebanon. Alih-alih memberitakan realitas keji di Emirat, media mainstream malah terus menyebarluaskan kisah-kisah tentang kekejaman pasukan Assad kepada rakyatnya. Dan sebagaimana yang dulu terjadi dalam kasus Iran dan Libya, media-media yang bekerjasama bahu-membahu dalam propaganda ini adalah Aljazeera (Qatar), Al-Arabiya (Saudi Arabia), France24 (France), BBC (UK) and CNN (USA). Meyssan menyebut kesemuanya berada di bawah koordinasi dengan jurnalis Israeli.



Lalu, ada laporan lagi yang cukup membuat heboh dunia maya akhir-akhir ini, yaitu terbongkarnya video palsu soal kerusuhan di Syria, dilakukan oleh Danny Abdul Dayem (22 tahun, warga Suriah-Inggris). Dia bekerja sama Anderson Cooper dari CNN Amerika. Parahnya, video palsu yang menggunakan efek suara-suara bom dan letusan senjata, seolah-olah para aktivis sedang dibantai tentara nasional Syria itu, disebarluaskan juga oleh media mainstream.



Ada satu fakta menarik yang dilaporkan Meyssan dalam salah satu tulisannya, yaitu ternyata pemimpin FSA (=Pasukan Pembebasan Syria) adalah Aldel Hakim Belhaj. Siapa Belhaj? Dia adalah pemimpin Al Qaeda legendaris di Libya, menjabat sebagai Gubernur Militer di Tripoli. Temuan Meyssan ini sejalan dengan penemuan Chossudovsky (dan kemudian juga diakui terang-terangan oleh Menlu AS, Clinton, bahwa Al Qaeda berada di tengah-tengah para pemberontak Syria).



Ada banyak lagi kejanggalan yang bisa ditemukan dalam konflik Syria, yang tidak perlu berkaitan dengan agama dan mazhab. Intinya, konflik Syria adalah sebuah rekayasa dari AS, NATO, dan Israel. Terlalu naif bila ada yang mengatakan bahwa mereka sedang berusaha menggulingkan Assad untuk membantu rakyat Syria yang tertindas. Ini adalah cerita lama yang berulang. Assad tidak pro Israel, mendukung Hizbullah dan Hamas, dan berbaik-baik dengan Iran. Semua faktor ini menjadi penghalang bagi ambisi Israel untuk menguasai Timur Tengah. Saat ini umat Islam menghadapi musuh yang sama dengan Assad, yaitu Israel. Sayang sekali, umat Islam justru sibuk saling tuduh dan tidak mau satu suara; hanya karena termakan propaganda media Barat. Bukan hanya rakyat awam. Sebagian pemimpin negara-negara Islam pun ramai-ramai mendukung Barat untuk menggulingkan Assad. Dan Israel pun tertawa, karena upayanya menggulingkan Assad berbuah bonus: perpecahan di kalangan muslim.



Terakhir, apa untungnya buat kita orang Indonesia mengamati kasus Syria? Silahkan membaca berbagai analisis yang menyebutkan bahwa skenario disintegrasi di Syria (dan Libya) sesungguhnya sedikit demi sedikit sedang diimplementasikan di Indonesia. Kecerdasan untuk melihat siapa musuh, siapa kawan, akan sangat bermanfaat bila kita tidak ingin negeri kita sendiri kelak hancur lebur seperti Syria atau Libya. (IRIB Indonesia)

*alumnus Magister Hubungan Internasional Univ. Padjadjaran

Saturday, March 3, 2012

Syria Di Persimpangan

Syria menghadapi arus perubahan musim bunga politik yang sedang berlaku di dunia Arab secara khusus. Tidak boleh dinafikan sedikitpun, kebangkitan yang menggolakkan arus perubahan itu disebabkan oleh tempoh pemerintahan yang lama tanpa kebebasan rakyat, kerana pemerintahan bersifat diktator bertopeng demokrasi, yang menekan rakyat dengan lesen yang diberi oleh kuasa-kuasa besar dunia diatas nama rakan strategik bagi keselamatan Israel yang dilindungi dengan cara paling istemewa, akhirnya tidak mampu membatalkan musim yang bertiup.

Syria mempunyai kedudukkan yang agak berbeza dengan negara arab yang lain, kerana tidak mengiktiraf Israel dan tidak mengadakan hubungan diplomatik dengannya. Syria juga menjadi pintu keluar bagi negara Iran yang dikepung, dalam masa yang sama mengizinkan buminya menjadi pangkalan bagi gerakan Islam Hamas dan Jihad Islami, serta pangkalan bantuan bagi Hizbullah yang berada di Selatan Lubnan. Hamas dan Jihad Islami bermazhab Sunni, tidak sama dengan Bashar Assad yang menganut mazhab Alawi. Begitu juga Republik Islam Iran dan Hizbullah yang bermazhab Syiah Imamiyyah yang bertentangan juga dengan mazhab yang dianut oleh Bashar dan keluarganya. Diambil kira juga parti Baath yang menganut ideologi sosialis yang keras sehingga hampir sama dengan negara komunis dan juga berfahaman nasionalis fanatik yang keras terhadap Israel. Menunjukkan bahawa masing-masing lebih menjadikan rakan strategik bagi menghadapi musuh yang sama iaitu Israel.

Dalam masa yang sama, negara kuasa besar khususnya Amerika yang menjadi rakan strategik Israel akan melindungi negara haram tersebut daripada sebarang gerakan yang dianggap ancaman kepada keselamatan Israel khususnya dalam berdepan dengan Islam. Kumpulan Hamas, Jihad dan Hizbullah adalah ancaman paling bahaya terhadap Israel dengan bantuan Iran secara terbuka juga diumumkan oleh pemimpin utamanya Imam Ali Khamanaei dalam khutbah jumaatnya yang terakhir, diikuti oleh lawatan rasmi ke Iran oleh Ismail Haniyyah, Perdana Menteri Palestin yang tidak diiktiraf oleh Barat dan sekutunya walaupun dipilih secara pilihanraya yang dipantau oleh pertubuhan antarabangsa. Maka kesemuanya adalah ancaman besar terhadap negara Zionis itu.

Sebelum daripada perkembangan ini, tercetus perang di Selatan Lubnan dan selepasnya serangan terhadap Ghazzah. Kedua peristiwa percubaan Israel ini yang menyerang bagi menghapuskan ancaman terhadap negara haram itu menemui kegagalan yang memalukan. Percubaannya gagal walaupun dengan bantuan negara-negara rakan Israel dan sokongan terbuka dan tersembunyi oleh negara-negara Arab yang bersahabat dengan Israel. Kesemua negara Arab dan negara Islam itu menerima konsep Road Map tajaan kuasa besar yang bertanggungjawab menubuhkan Israel.

Ia juga ekoran dicetuskan isu ancaman teknologi nuklear Iran, walaupun di atas tujuan perbekalan tenaga, bukannya persenjataan kerana diharamkan oleh agama Islam seperti dinyatakan oleh para pemimpinnya. Sebaliknya Israel pula telah memiliki senjata nuklear sejak tahun enam puluhan lagi, dengan tidak menandatangani apa-apa perjanjian antarabangsa yang mencegahnya daripada melakukan sesuatu yang mengancam keamanan dan keselamatan dunia. Sebarang tindakannya yang dikira menceroboh dan mengganas dengan nyata diselamatkan dengan kuasa veto oleh kuasa besar pelindungnya jika ada sebarang keputusan yang tidak berpihak kepadanya. Inilah dia undang-undang rimba yang diamalkan di peringkat antarabangsa iaitu siapa yang kuat dia selamat.

PAS bersama dengan parti Islam di seluruh dunia mengutuk segala kekejaman yang berlaku di Syria terhadap rakyatnya. PAS dan gerakan Islam bersetuju supaya kerajaan Syria menghentikan kekejaman terhadap rakyat. Kami juga bersetuju supaya Syria didesak dan dipaksa membuat perubahan kepada demokrasi yang sebenar. Namun kami tidak bersetuju jika perubahan yang berlaku kerana hendak menyelamatkan negara haram Israel dan masuk ke dalam agenda Israel dan sekutunya. Tujuannya bukan menyelamatkan Syria tetapi lebih daripada itu untuk menekan, melemah dan menghapuskan Hamas, Jihad Islami (daripada Sunni) dan Hizbullah serta Iran (daripada Syiah).

Pihak yang melawan kerajaan Syria pula melibatkan kumpulan Islam dan bukan Islam. Mereka dibekal dengan bermacam bantuan termasuk senjata dan ada yang diberi di atas nama Islam dengan agenda menegakkan kerajaan baru yang menyelamatkan Israel melalui gabungan kerjasama kumpulan Islam yang tidak kuat dengan kumpulan sekular yang berpangkalan di negara Barat yang lebih diperkuatkan supaya menguasai gerakan perubahan.

Media Israel melaporkan kenyataan pemimpin kerajaan dan tentera Israel bahawa mereka mahukan perubahan yang bukan berteraskan Islam yang lebih menyelamatkan Israel. Jika tidak maka Bashar Assad perlu diteruskan berkuasa pada tempatnya. Ini kerana perubahan yang memberi kemenangan kepada kumpulan Islam seperti di Mesir, Tunisia dan Libya lebih menjadi ancaman kepada keselamatan Israel.

Usaha mereka bukan sahaja menyekat ancaman terhadap Israel daripada utara dan selatannya, tetapi juga dilakukan bagi menghapuskan kekuatan Iran dan kemajuan teknologinya. Beberapa bulan yang lalu media Barat mendedahkan perselisihan pendapat di kalangan Zionis Yahudi berhubung keperluan melancarkan serangan ke atas Iran seperti yang pernah dilakukan ke atas janakuasa tenaga nuklear Iraq di tahun 70-an di masa Saddam Husain. Usaha juga dilakukan dengan menggunakan Iraq di zaman Saddam bagi menyerang Iran yang baru berjaya dalam Revolusi Islam menjatuhkan regim Shah yang pro Barat. Ada di kalangan mereka yang bersetuju supaya Iran diserang habis-habisan. Mereka ialah kalangan pelampau Zionis yang berada dalam negara haram Israel. Ada juga yang tidak bersetuju Iran diserang. Mereka ialah kumpulan Zionis yang berada di Amerika dan Eropah. Mereka bimbang tindakan itu akan menyuburkan gerakan anti Zeonis dikalangan masyarakat barat apabila berlakunya krisis sampingan selepas serangan itu.

Bagi melaksanakan agenda yang nyata dan tersembunyi ini, maka sudah tentu Amerika dan sekutunya menjadi penyumbang besar bagi menjayakan cita-cita keselamatan negara haram Israel. Kepada mereka yang dapat membaca medan politik secara sepak terajangnya, bukan secara akademik sahaja, perlu difahami bahawa politik perlu dibaca dengan dua aspek iaitu akademik yang bersurat dan sepak terajang yang tersirat. Betapa agenda melagakan umat Islam yang pernah menjatuhkan kerajaan Othmaniyah di awal abad yang lalu sedang diulangi senarionya.

Pertama, umat Islam dilagakan dengan semangat kebangsaan masing-masing sehingga membantu musuh bagi menjatuhkan kerajaan Othmaniyyah di abad yang lalu tanpa menafikan adanya kezaliman dan kesilapan kerajaan Othmaniyyah terhadap wilayahnya. Semangat nasionalisme digunakan bagi menimbulkan kebencian Arab terhadap bangsa Turki yang menguasai kerajaan Islam dimasa itu. Di atas semangat kebangsaan dengan bantuan yang melibatkan manusia seperti Lorans dan rakan-rakannya Arab dibantu untuk menentang Turki Otmaniyyah. Akhirnya Kerajaan Othmaniyyah dijatuhkan dan diberi tempat kepada Kamal Ataturk mendirikan kerajaan sekular menggantikan kerajaan Islam di atas nama memajukan Turki tetapi berakhir dengan bangsat.

Di kalangan bangsa Arab pula diupah dengan bahagian masing-masing mengikut road map Sykes Picot dengan membahagikan di kalangan negara Barat untuk menjaganya dengan upah mengangkut hasil bumi yang kaya. Manakala Arab pula dibayar dengan wang yang banyak supaya kaya-raya tanpa teknologi yang dapat menguatkannya sehingga dapat berdikari dan meninggalkan sifat Islamnya supaya tidak berakhlak, tetapi terus berlindung dengan negara-negara Barat tersebut. Negara-negara Arab yang mendapat bahagian ini masih lagi menjadikan hari mendapat bahagian tersebut sebagai hari kebangsaan masing-masing yang disambut dengan meriahnya secara tahunan.

Yang kedua, melagakan umat dengan mazhab yang ramai pengikut. Pengikut Mazhab Ahli Sunnah Wal Jamaah yang merupakan majoriti umat Islam dan menjadi mazhab kerajaan Othmaniyyah yang bermazhab Hanafi, dilagakan dengan mazhab Syiah Imamiyyah yang ramai penganutnya di Iran, Iraq dan Selatan Lubnan dan menjadi mazhab Shah Iran di masa itu. Mazhab Zaidiyyah yang sebahagian besar pengikutnya di Yaman dan juga menjadi mazhab raja yang bergelar Imam yang memerintah Yaman. Ada pun Oman pula bermazhab Khawarij Ibadiyyah. Syah Iran dan Imam Yaman berperang dengan kerajaan Othmaniyyah. Oman pula menjadi pengkalan kuasa barat.

Malangnya dalam pergolakan yang berlaku di Syria dan perang yang masih dingin di antara Iran dan negara Barat dan sekutunya, isu nasionalisme dan mazhab dihidupkan semula. Dihidupkan semula galakan semangat nasionalisme di kalangan umat Islam sehingga meletakkan ajaran Islam yang boleh menyatukan umat dan akhlaknya yang mulia dilupakan. Masalah khilafiyyah di kalangan mazhab Islam yang satu dihidupkan semula. Sepatutnya menjadi perbincangan di kalangan para ulama yang mendalami ilmunya sahaja, tetapi dihidupkan bukan sahaja diantara Sunni dan Syiah bahkan di antara Sunni dan Sunni. Ia disebarkan saperti salafi (wahabi) dan Asya’irah dan Maturidiyyah di kalangan Ahli Sunnah. Masalah cabang ajaran agama yang berbeza dikalangan empat mazhab dan lain-lain dikalangan ahli sunnah dihidupkan kalangan masyarakat awam yang cetek pengatahuan agamanya. Syiah Imam Khomeini dan Khaminaei yang membuat perubahan politik daripada syiah tradisi di kalangan Syiah, diantara syiah Arab dan syiah Parsi di Iraq. Di samping menyebarkan mazhab-mazhab ini di kalangan umat Islam yang masih jahil agama, bukannya menyebarkan dan menambahkan penyebaran Islam di kalangan bukan Islam. Semua ini adalah agenda laga dan perintah atau penjajahan semula yang sepatutnya difahami oleh umat Islam.

Dalam kemelut yang begitu celaru, umat Islam perlu kembali ke pangkal jalan, mengenali kawan dan lawan serta mengambil iktibar daripada kesalahan yang lalu. Para ulama dan pemimpin di zaman keemasan umat Islam bersatu dalam perkara rukun dan berbeza pendapat dalam masalah cabang sehingga tidak memisahkan hubungan persaudaraan agama dan kemanusiaan berbagai agama dan kaum dalam negara Islam yang luas dan besar. Pandangan semua ulama dicatit menjadi kajian, termasuk pendapat paling lemah kerana keadaan situasi dan realiti yang boleh berubah. Kesilapan dalam perkara rukun diperbetulkan dengan kebijaksanaan. Maka paling menariknya berlaku perkembangan Islam secara damai lebih pesat daripada ketika berperang.

Allah mengajar penganut Islam di zaman Rasulullah S.A.W. supaya umat Islam bersatu di atas dasar dan konsep Islam serta menggunakan pendekatan damai dan strategik dengan masyarakat bukan Islam. Walaupun Rasulullah S.A.W. sudah wafat dan para sahabat generasi awal Islam berbeza pendapat siapakah pengganti Rasulullah S.A.W. selepas wafatnya sehingga melahirkan mazhab Sunni, Syiah dan Khawarij. Namun mereka bersatu bersama para Khulafa Rasyidin R.A. dalam menghadapi cabaran dan menyebarkan Islam sehingga berjaya selama beberapa abad. Mereka yang jahil dan melampau disingkirkan daripada masyarakat umat yang besar. Imam Abu Hanifah dan Imam Malik berguru dan bersatu dengan Imam Jaafar al-Sodiq pelopor Syiah Imamiyyah yang beribukan salah seorang daripada zuriyat Abu Bakar Al Siddiq R.A. Semua para ulama yang berwibawa itu menentang kezaliman di zaman Umawiyyah dan Abbasiyyah dan mendokong sesiapa yang adil, seterusnya dakwah dan jihad diteruskan. Adapun pertelingkahan yang tajam selepasnya, berlaku di kalangan para jahil daripada semua pihak.

Langkah penubuhan Majma’ Fiqh di bawah OIC yang melibatkan para ulama daripada semua mazhab itu adalah sangat positif bagi umat Islam. Begitu juga kenyataan dan fatwa pemimpin utama Iran Imam Ali Khaminaei supaya para pengikutnya berhenti daripada mencaci dan menghina para Ummahatul Mukminin (para isteri Rasulullah S.A.W.) yang bertaraf ibu kepada seluruh orang-orang yang beriman dengan perintah Al Quran secara nas dan berhenti menghina para sahabat R.A. malah para ulama besarnya memaklumkan bahawa lebih daripada sembilan ribu hadith yang ada dalam kitab al-Kulaini yang menimbulkan masalah hendaklah ditolak.

Adapun langkah membiarkan kuasa asing yang dijemput menyelesaikan masalah hanya mengulangi sejarah lama yang wajib dilipat dan dikebumikan. Kalau mahu menghidupkan semula dalam pergolakan di Syria terkini akan terlaksana sejarah lama yang mengundang singa dan buaya. Natijahnya kalau selamat daripada mulut harimau akan masuk ke dalam mulut buaya.


Datuk Seri Tuan Guru Abdul Hadi Awang

PRESIDEN PAS

Jom Baca!